EXVOSE, Di tengah gelombang transformasi digital yang melanda berbagai sektor ekonomi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam melakukan migrasi ke platform digital. Meskipun pemerintah dan berbagai pihak telah menggalakkan program digitalisasi, banyak pelaku UMKM yang masih kesulitan untuk beradaptasi dengan perubahan ini.
Salah satu contoh nyata adalah Ibu Siti, pemilik warung makan kecil di pinggiran kota Jakarta. Selama lebih dari 20 tahun, warung makan miliknya telah menjadi tempat favorit warga sekitar untuk menikmati hidangan tradisional. Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda, omzet warung makan Ibu Siti menurun drastis. “Saya dengar banyak orang sekarang belanja online, tapi saya tidak tahu caranya,” ujarnya dengan nada khawatir.
Ibu Siti bukanlah satu-satunya pelaku UMKM yang mengalami kesulitan ini. Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM, sekitar 60% UMKM di Indonesia masih belum memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Padahal, migrasi ke platform digital bisa menjadi solusi untuk meningkatkan penjualan dan memperluas pasar.
Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh UMKM adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi digital. Banyak pelaku UMKM yang masih gagap teknologi (gaptek) dan tidak tahu bagaimana memulai proses digitalisasi. “Saya sudah mencoba membuat akun di marketplace, tapi bingung cara mengelolanya,” kata Pak Budi, seorang pengrajin kerajinan tangan di Yogyakarta.
Selain itu, biaya yang diperlukan untuk melakukan migrasi ke platform digital juga menjadi hambatan tersendiri. Membangun website, membeli perangkat lunak, dan mengelola pemasaran digital memerlukan investasi yang tidak sedikit. Bagi UMKM yang memiliki modal terbatas, hal ini tentu menjadi beban yang cukup berat.
Pemerintah sebenarnya telah menyediakan berbagai program pelatihan dan pendampingan untuk membantu UMKM dalam melakukan digitalisasi. Namun, menurut beberapa pelaku UMKM, program-program tersebut belum sepenuhnya efektif. “Pelatihan yang diberikan terlalu singkat dan tidak mendalam. Setelah pelatihan selesai, kami masih bingung bagaimana menerapkannya,” ujar Ibu Siti.
Selain itu, infrastruktur internet yang belum merata di seluruh Indonesia juga menjadi kendala. Banyak UMKM di daerah pedesaan yang kesulitan mengakses internet dengan kecepatan yang memadai. Hal ini tentu menghambat proses digitalisasi yang seharusnya bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Meskipun demikian, tidak semua UMKM menyerah dengan tantangan ini. Beberapa di antaranya telah berhasil melakukan migrasi ke platform digital dan merasakan manfaatnya. “Setelah saya mulai menjual produk saya secara online, penjualan meningkat pesat. Sekarang saya bisa menjangkau pelanggan dari berbagai daerah,” kata Bu Ani, seorang penjual keripik singkong asal Malang.
Untuk membantu UMKM lainnya, Bu Ani membagikan pengalamannya melalui komunitas online dan memberikan pelatihan singkat kepada sesama pelaku UMKM. “Saya ingin membantu mereka yang masih kesulitan. Digitalisasi itu sebenarnya tidak sulit, asal ada kemauan dan dukungan yang tepat,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan ini, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama. Pemerintah perlu meningkatkan program pelatihan dan pendampingan yang lebih intensif dan berkelanjutan. Sementara itu, pihak swasta bisa memberikan dukungan dalam bentuk akses ke platform digital yang lebih terjangkau dan ramah pengguna.
Dengan upaya bersama, diharapkan UMKM di Indonesia bisa lebih siap menghadapi era digital dan terus berkontribusi dalam perekonomian nasional. Seperti kata pepatah, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Transformasi digital bukanlah hal yang mustahil, asal semua pihak bergerak bersama. (EXV-H)