EXVOSE, Di era serba digital seperti sekarang, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: bertahan dengan cara konvensional atau beralih ke platform digital. Meskipun digitalisasi menawarkan peluang besar untuk meningkatkan penjualan dan memperluas pasar, banyak UMKM yang masih kesulitan untuk melakukan migrasi ini.
Pak Joko, seorang pengusaha kecil di bidang fashion, merasakan betul tantangan ini. Selama lebih dari 10 tahun, ia mengandalkan penjualan langsung dari toko fisiknya di pasar tradisional. Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda, penjualannya merosot tajam. “Saya mencoba menjual online, tapi tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya dengan nada frustrasi.
Cerita Pak Joko adalah gambaran umum dari banyak UMKM di Indonesia. Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), sekitar 70% UMKM di Indonesia masih belum memanfaatkan platform digital secara optimal. Padahal, digitalisasi bisa menjadi solusi untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh UMKM adalah kurangnya pemahaman tentang teknologi digital. Banyak pelaku UMKM yang tidak tahu bagaimana cara membuat website, mengelola media sosial, atau bahkan menggunakan aplikasi e-commerce. “Saya sudah mencoba membuat akun di marketplace, tapi bingung cara mengunggah produk dan mengatur promosi,” kata Bu Yani, seorang penjual kue tradisional di Surabaya.
Selain itu, biaya yang diperlukan untuk melakukan digitalisasi juga menjadi hambatan tersendiri. Membangun website, membeli perangkat lunak, dan mengelola pemasaran digital memerlukan investasi yang tidak sedikit. Bagi UMKM yang memiliki modal terbatas, hal ini tentu menjadi beban yang cukup berat.
Pemerintah sebenarnya telah menyediakan berbagai program pelatihan dan pendampingan untuk membantu UMKM dalam melakukan digitalisasi. Namun, menurut beberapa pelaku UMKM, program-program tersebut belum sepenuhnya efektif. “Pelatihan yang diberikan terlalu singkat dan tidak mendalam. Setelah pelatihan selesai, kami masih bingung bagaimana menerapkannya,” ujar Pak Joko.
Selain itu, infrastruktur internet yang belum merata di seluruh Indonesia juga menjadi kendala. Banyak UMKM di daerah pedesaan yang kesulitan mengakses internet dengan kecepatan yang memadai. Hal ini tentu menghambat proses digitalisasi yang seharusnya bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Meskipun demikian, tidak semua UMKM menyerah dengan tantangan ini. Beberapa di antaranya telah berhasil melakukan migrasi ke platform digital dan merasakan manfaatnya. “Setelah saya mulai menjual produk saya secara online, penjualan meningkat pesat. Sekarang saya bisa menjangkau pelanggan dari berbagai daerah,” kata Bu Ani, seorang penjual keripik singkong asal Malang.
Untuk membantu UMKM lainnya, Bu Ani membagikan pengalamannya melalui komunitas online dan memberikan pelatihan singkat kepada sesama pelaku UMKM. “Saya ingin membantu mereka yang masih kesulitan. Digitalisasi itu sebenarnya tidak sulit, asal ada kemauan dan dukungan yang tepat,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantangan ini, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama. Pemerintah perlu meningkatkan program pelatihan dan pendampingan yang lebih intensif dan berkelanjutan. Sementara itu, pihak swasta bisa memberikan dukungan dalam bentuk akses ke platform digital yang lebih terjangkau dan ramah pengguna.
Dengan upaya bersama, diharapkan UMKM di Indonesia bisa lebih siap menghadapi era digital dan terus berkontribusi dalam perekonomian nasional. Seperti kata pepatah, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Transformasi digital bukanlah hal yang mustahil, asal semua pihak bergerak bersama. (exv-h)